-->

Iklan

https://picasion.com/

Satu Abad Alun-Alun Kota Lumajang

, Sabtu, Juli 24, 2021 WIB
https://picasion.com/


Selama beberapa tahun terakhir ini saya mengamati fisik alun-alun kota Lumajang kok semakin cantic dan menarik saja, begitu kesan seorang warga kota Lumajang yang setiap hari minggu pagi rajin berjalan-jalan santai bersama keluarganya mengitari alun-alun kota Lumajang. Tetapi tahukah anda, bagaimana fisik alun-alun kira-kira jauh pada masa lalu? Berikut ini adalah kisah alun-alun Lumajang tersebut.


Alun-alun yang berlokasi di tengah-tengah kota Lumajang ini telah menelusuri “jalan hidupnya” sekitar satu abad. Sebagai salah satu dari unsur geografis tata kota. Alun-alun ini tidak jauh beda dengan prototype-nya yang timbul pada abad ke-17. Pada abad ini terjadi perpaduan antara budaya/tradisi Jawad an budaya Islam yang berpusat di Jawa Tengah, jelasnya di pusat kerajaan Mataram Islam. Perpaduan kedua budaya tersebut terjadi secara damai berkat kearifan dan kebijaksanaan rajanya : Panembahan Senopati atau lebih dikenal dengan nama ‘Sultan Agung Hanyakra Kusuma’ (1613-1645).

Tradisi besar Islam yang dipelopori oleh Sultan Agung pada 1633 M melahirkan kalender Jawa yang islamistis, yakni perpaduan perhitungan tahun Jawa lama (tahun samsiah caka) dengan tahun hijriyah qomariah (S. Resowidjojo 1959:XII). Tahun itu pula Sultan Agung membangun tanah lapang yang disebut ALUN-ALUN di sebelah utara Keraton. Bentuknya persegi empat. Di sebelah barat dibangun masjid keratin dan di tengah alun-alun ditanam pohon beringin.

Sedikit berbeda dengan alun-alun di pusat kerajaan Majapahit, keratin Majapahit terletak di sebelah utara dan candi kerajaan terletak di sebelah timur alun-alun. Tipe alun-alun ala Sultan Agung ini kemudian menjadi pola anutan di kota-kota di pulau Jawa dalam lingkungan kerajaan Mataram, tidak terkecuali alun-alun kota Lumajang (HJ. De Graaf 1949 : 69).

Kapan alun-alun kota Lumajang dibangun? Hingga saat ini belum diketemukan data-datanya. Namun dapat diperkirakan alun-alun itu dibangun lengkap arena pendukungnya pada paruh-akhir abad ke-19. Ketika tlatah Lumajang masih menjadi ‘afdeeling’ dari daerah Kabupaten Probolinggo. R.M. Singowiguno yang menjabat ‘Zelfstanding Patih’ afdeeling Lumajang (tahun 1890-1920) melengkapi alun-alun kota Lumajang dengan penanaman pertama pohon beringin di tengahnya.

Sebagai catatan, sekitar tahun 1962 umur pohon itu sudah lebih dari ½ abad dan telah diganti dengan pohon beringin muda (yang tumbuh sekarang). Pohon beringin yang lain ditanam juga di sebelah timur monumen ‘Regentschap’ (tepi utara) sebanyak 2 buah, (salah satunya berbentuk mirip gajah) dan sebuah lagi di sebelah baratnya. Ketiga-tiganya sudah tumbang setelah proklamasi kemerdekaan. Pada tepi yang lain ditanam ‘pohon hujan’ (regenboom) tinggi besar pada jarak masing-masing kira-kira 100 m. Pohon-pohon inipun telah dipotong karena usia lanjut dan tidak diganti dengan tanaman yang baru.

Unsur-unsur pendukung yang lain ialah dibangunnya kantor, sekolah dan tempat kediaman dalam gaya colonial (Belanda) dan sedikit bergaya tradisi Jawa. Hal ini Nampak pada bagian atas bangunan yang disebut ‘atap tumpang’ a.l. pendopo kabupaten, gedung SD Ditotrunan 1, SLTP 1. Antara atap bagian atas dan bawah terdapat jarak yang difungsikan sebagai ventilasi. Ciri-ciri yang lain ialah : ukuran pintu dan jendela yang relatif besar-besar menurut ukuran sekarang.

Bangunan lain yang tergolong rumah mewah pada saat itu ialah rumah Asisten Residen dengan halaman yang luas (lokasi) kantor Bupati sekarang, dokter Belanda (lokasi gedung/halaman POLRES sekarang), Kepala Pengadilan ‘Landraad’ (lokasi Makodim sekarang, kemudian 3 buah rumah kembar mewah sebelah utara alun-alun untuk Controleur, Kepala Sekolah Hollandsch-Inlandsche School (HIS) dan Europeache Lagere School (ELS). Di sebelah selatan masjid terpisah oleh jalan didiami oleh Kepala Hollands Chinesche School (HCS). Jadi tidak ada pribumi pun yang boleh mendiami sekitar alun-alun. Kecuali seorang bumiputra (Indonesia) yang diakui status ariestokrasinya, yakni ‘Regent’ atau bupati yang nota bene menjadi ‘verlengtuk’ dari apparat Pemerintah Belanda (asisten residen). Bersambung.

Oleh : Soetadji SW

MAHAMERU.16/II-X/OKTOBER 1998 : 17.

 

Sumber : https://cindyviolibrarian.wordpress.com/2021/01/20/satu-abad-alun-alun-kota-lumajang/

 

Komentar

Tampilkan

Terkini