Dua Hal Besar Yang Wajib Kita Syukuri, Simak Penjelasannya !


Ada dua nikmat besar yang wajib kita syukuri, itu adalah Maqolah guru kami Syekh Achmad. Yang pertama yaitu nikmat adanya kemauan dan berikutnya adalah nikmat berupa kesehatan.

Nikmat Adanya Kemauan. 

Berbicara tentang kemauan, itu merupakan kunci dari kemanfaatan seseorang. Jadi seseorang bisa bermanfaat adalah dari kemauannya sendiri.

QS Ar Ra'd ayat 11 : 

لَهُۥ مُعَقِّبَٰتٌ مِّنۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِۦ يَحْفَظُونَهُۥ مِنْ أَمْرِ ٱللَّهِ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ ۗ وَإِذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِقَوْمٍ سُوٓءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُۥ ۚ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِۦ مِن وَالٍ

Arti: Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya. Dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

Karena sebaik baiknya manusia adalah yang paling banyak manfaatnya untuk manusia. Dan sesungguhnya ketika kita berbuat kemanfaatan kepada orang lain, manfaatnya akan kembali kepada kita .

خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no:3289).

Salah satu contohnya adalah guru, yang dalam kesehariannya selalu menyampaikan ilmu kepada muridnya. 

Selama mengajar ikhlash karena Allah maka ia adalah sebaik baik manusia. Serta juga kejelasan ia dalam istiqomah menyampaikan ilmu bisa menghantarnya menjadi seseorang yang luhur.

Berbanding terbalik dengan orang yang tidak mempunyai kemauan dalam hidupnya. Ia cenderung menuruti hawa nafsu sehingga hidupnya tiada manfaat dan cenderung menyusahkan orang lain. 

Untuk itu marilah berlomba berbuat kemanfaatan untuk meringankan beban orang lain sesuai dengan bidang masing masing. Ibarat menanam tanaman, maka harus kita rawat dengan kerja keras dan menjaganya hingga berbuah. 

Itulah gambaran amal kita, harus senantiasa kita rawat, sampai berbuah kemanfaatan untuk orang lain. Tentunya hal tersebut tidak mudah karena harus melalui jerih payah dalam mewujudkan tujuan tersebut. Jangan sampai kita lengah, sehingga membuat amalan tersebut rusak dengan perkara yang bisa menggagalkan dalam mencapai tujuan. 

Nikmat Kesehatan.

Yang kedua adalah nikmat kesehatan, sehat merupakan kunci seseorang dalam melakukan aktifitas. Untuk itu bagi seoarang yang dikaruniai kesehatan haruslah memanfaatkan dengan baik sebelum datang masa sakit. 

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

“Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara :

(1) Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu.

(2) Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu.

(3) Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu.

(4) Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu.

(5) Hidupmu sebelum datang matimu.”

Karena kalau sudah sakit, maka akan menjadi hambatan dalam beribadah maupun melakukan aktifitas pekerjaan. Sehingga wajib hukumnya menjaga kesehatan terlebih pada era pandemi sekarang ini. 

Seringkali nikmat sehat itu melalaikan seseorang, ia banyak menghabiskan waktunya dengan perkara yang tidak bermanfaat. Sampai ketika sudah tua dan sering sakit barulah menyadari betapa mahalnya nilai dari kesehatan. 

Untuk itu mari kita bersyukur manakala Allah memberikan kepada kita, berupa kemauan untuk bermanfaat dan juga nikmat sehat. Sehingga bisa menjadikan kita sebagai manusia yang terbaik, dengan banyak memberikan manfaat untuk orang lain. Amin.

Posting Komentar

0 Komentar