Mengenal 3 Ulama Kharismatik Lumajang

Hidup Sekali Jangan Sampai Mati. Kalimat tersebut adalah dawuh dari guru kami yaitu Syekh Achmad.

Memaknai kalam guru kami di atas, bahwa seseorang bisa mengukir namanya secara abadi dengan jalan membuat sejarah yang bisa dikenang selamanya.

Beberapa contohnya yaitu KH. Anas Mahfudz. Beliau adalah salah satu pendiri NU Lumajang, yang merupakan sosok Ulama yang teduh pengayom umat. Selain itu beliau juga merupakan guru besar para kyai di Lumajang, sehingga namanya diabadikan menjadi nama Masjid Agung KH Anas Mahfudz, yang letaknya di sebelah barat Alun-alun Lumajang.

Berikutnya adalah seorang yang merupakan Wali Qur'an yang istiqomah dalam berdakwah dan mengajarkan Al-Qur'an serta kitab-kitab salaf di Pondok Pesantren Salafiyah di Suwandak. Beliau adalah KH Barizy, yang kemudian namanya diabadikan pada nama jalan di daerah Tukum, yaitu jalan KH. Barizy.

Yang terakhir adalah KH. Khomsani Nur. Beliau adalah perintis Masjid Klanting. Selain itu, beliau juga berjasa dalam mengembangkan MI Nurul Islam Klanting serta merupakan kyai yang dekat dengan jamaah dan masyarakat. Tidak heran jika namanya juga diabadikan menjadi nama Pondok Pesantren Khomsani Nur dan Madrasah Aliyah Khomsani Nur Klanting.

Belajar dari ketiga tokoh tersebut, maka dapat diambil hikmahnya bahwa hidup yang cuma sekali ini haruslah punya sejarah atau peninggalan yang bermanfaat untuk masyarakat. Sehingga tidak akan pernah mati, dalam artian akan dikenang terus sepanjang masa.

Penulis : Ayoeb Taufani Zaman, Kepala MA Khomsani Nur

Posting Komentar

0 Komentar