Sepenggal Kisah Menimba Ilmu di Kota Angin Mamiri

Ada banyak kisah yang bisa dituturkan tentang kenangan selama di Kota Angin Mamiri. Namun, benak ini tidak cukup ruang untuk mengingat semua lipatan kenangan selama kaki berpijak di Kotanya Sultan Hasanuddin.

Kisah berawal, 2006 silam, ketika itu saya memutuskan untuk menimba ilmu di tanah seberang, yang dulu orang-orang di kampung menyebutnya dengan sebutan Ujung Pandang.

Tidak banyak orang di kampung yang memutuskan untuk melanjutkan studi di Kota Makassar, kalaupun ada sebelum-sebelumnya, cukup dengan jari saja orang bisa menghitungnya. Jika dibandingkan dengan kota-kota yang ada di Pulau Lombok dan Pulau Jawa, Makassar merupakan kota studi bagi kawan-kawan dari Dompu dan Bima.

Selain karena perjalanannya yang cukup jauh, menggunakan kapal pula.
Menuju Makassar, ketika itu saya harus naik kapal Tilongkabila di pelabuhan Bima, kemudian singgah di pelabuhan Bajo, baru menuju Kota Makassar.

Untuk sampai di tempat tujuan saya harus menghabiskan waktu selama 24 jam di atas kapal dengan bentangan laut yang tak bertepi.

Di Makassar, saya diterima dan menimba ilmu di Universitas Hasanuddin. Sebuah kampus ternama di kawasan timur Indonesia, setenar namanya yang pernah berjuang melawan kolonialisme Belanda di zaman dulu.

Di kampus merah ini, saya mulai merawat mimpi, menjalin pertemanan dan memahami  dunia yang jauh berbeda dibandingkan dengan kondisi ketika semasih di kampung.

Di kota Makassar, perlahan tapi pasti saya menjalani hari dengan penuh sedikit keberanian untuk melakukan sesuatu, baik mulai membiasakan mencuci piring sendiri sampai menuntaskan pekerjaan kuliah dengan penuh keyakinan.

Hidup di tanah perantauan, dari waktu ke waktu mencoba survive dengan segala keadaan. Karena dengan begitu, saya bisa menyerap intisari pengalaman yang pernah terukir dalam setiap kaki melangkah.

Dari sekian lipatan masa itu yang masih meninggalkan jejak di benak saya ialah ketika bergumul dengan aktifitas kelembagaan mahasiswa di bagian Senat Fakultas.

Sebagai anak perantau yang ingin menyerap pengalaman para senior, saya memutuskan untuk sering ikut kegiatan-kegiatan  kelembagaan.

Ketika satu tahun dipercayakan memegang satu tanggung jawab di kepengurusan senat, saya ikut dalam proses penerimaan mahasiswa baru.

Hari-hari yang saya jalani bersama kawan-kawan ketika itu tidak jauh dari rapat, mengecek spanduk, mengetik surat, dan berdialog dengan birokrasi yang kadang menjengkelkan.

Salah satu yang paling menyenangkan ketika itu ialah bisa sering berkumpul  dan makan bersama dengan kawan-kawan yang selalu stand bay di sekretariat.

Jangan pernah bertanya berapa kali mencuci baju, berapa kali makan, berapa kali piknik dan berapa kali mandi satu hari. Semua itu tidak menentu, urusan makan saja kadang hanya satu hari sekali, itupun selalu makan bersama walaupun hanya satu bungkus nasi. Tidur di sekretariat jauh dari kata nyaman, buku bahkan tas cukup sering menjadi pengganti bantal.

Begitu juga dengan rambut dan shampoo, sangat jarang bersua dan bersilaturahmi dalam satu kesempatan yang disebut mandi.

Di sekretariat, saya dan kawan-kawan senasib dan sepenanggungan, bahkan tanggung jawab di struktur kelembagaan boleh berbeda, tapi keseharian sangatlah egalitarian.

Kami mengasah kepekaan, menyelami makna kebersamaan, dan memompa keberanian kala kebijakan penguasa yang tak berpihak kepada semesta.

Memilih hidup menjadi mahasiswa yang  berlembaga, merupakan pilihan yang berani dan penuh tantangannya sendiri. Kawan-kawan yang berada dipucuk kelembagaan merupakan garda terdepan, baik menyikapi isu, mendiskusikannya, memobilasi dan bahkan menyuarakannya kepada mereka yang tak tahu bagaimana semestinya menjadi pemimpin.

Di internal, mereka akan berhadapan dengan birokrasi kampus yang cukup sering memasung serta mengkangreng kreatifitas kawan-kawan di lembaga. Droup Out, Skorsing, merupakan label yang sering dialamatkan oleh pihak kampus kepada mereka yang lantang menyuarakan kebenaran.

Kepada mereka yang mengasah kepedulian, mereka yang belum ternodai hausnya kekuasaan, mereka yang menjadi barisan terdepan ketika keadilan di cabik-cabik oleh kerakusan pembual yang sering wara-wiri di layar kaca.

Ketika mereka berdiri di atas mobil water canon, dengan suara membahana di udara, dan saya hanya berkesempatan memegang spanduk dan ikut meneriakan yel-yel yang mereka gelorakan.

Hidup berlembaga merupakan bagian yang memiliki kisahnya sendiri ketika berlabel mahasiswa. Di sana banyak kawan yang merawat idealisme, menjaga asa, dan membangun massa untuk menusuk pantat penguasa.

Kemudian gagasan kadang sering berbenturan kala rapat di lakukan, namun akan se ia sekata, kala ketidak adilan ternodai.

Saya salut pada mereka, mereka yang berani melawan arus, melawan kemapanan, melawan dirinya sendiri untuk tidak berpangku tangan kala kesenjangan ada di depannya.

Saya merindukan masa-masa itu, masa di mana saya belajar kepada mereka yang selalu setia berbagi ide, gagasan setelah mereka seharian bergumul dengan  buku, lalu dengan rela mewartakan ketika bersua di ruang-ruang seminar dan diskusi.

Kelak jika waktu mengijinkan, saya bisa kembali bersua dengan kawan-kawan itu. Kawan-kawan yang kini sudah kawin dan telah menempuh perjalanan baru dalam kehidupannya.

Saya sangat yakin mereka akan begitu peka terhadap kehidupan sosial dimanapun mereka tinggal, sebab idealisme akan cepat menguap kala bersua dengan ketidak adilan.

Di sini, di Bumi Nggahi Rawi Pahu Pulau Sumbawa, saya berdiri dan memandang ke utara. Di sana ada Pulau Sulawesi dimana puluhan tahun yang lalu, kaki ini pernah berpijak dan mengukir banyak kenangan di sana. Ada cinta yang dipertautkan, ada rindu yang selalu merekah kala mengenang itu, dan masih ada mimpi yang belum sempat dituntaskan.

Adakah mereka merasakan hal yang sama? Entahlah, saya hanya ingin mengatakan, saya sedang mengenang kebersamaan itu.

Penulis : Suradin, SS., M.Pd (Wakil Ketua Bidang Kepemudaan Dewan Pimpinan Daerah Gerakan Pemuda Marhaenis Nusa Tenggara Barat (DPD GPM NTB).

Posting Komentar

0 Komentar