Tim Cobra Polres Lumajang Tetapkan 14 Tersangka Terkait Kasus QNet

Kapolres Lumajang ketika menunjukkan foto tsk
Lumajang,(DOC)-Tim Cobra Polres Lumajang telah menetapkan 14 tersangka terkait kasus QNet.

Keempat belas tersangka merupakan jajaran PT. Amoeba Internasional, dan PT PT QN International Indonesia (QNII), dan PT. Wira Muda Mandiri.

Tersangka yang ditetapkan dari PT. Amoeba Internasional ada 8 tersangka yakni Gita Hartanto, Tri Hartono, Moh Karyadi, Moh, Ansori, Edi Yusuf, Kristian Ali Nafa, Deni Hartoyo, Ahmad Junaedi.

Sedangkan dari PT. Wira Muda Mandiri ada 5 tersangka yakni Hendra Nikam, Ina Herawanti Rachman, Strenson, Carles, dan Tomi, T.A Ganam. Serta dari PT Wira Muda Mandiri yakni Suyanto Alias Metty.


"Saat ini kami telah menetapkan 14 tersangka dalam tindak pidana penipuan investasi dengan pasal yang kami persangkakan yaitu penipuan, perdagangan tanpa izin, mendistribusikan barang dengan skema piramida dan mengedarkan alat kesehatan tanpa izin edar dari Kemenkes," ujar Kapolres Lumajang AKBP Muhammad Arsal Sahban.

Dijelaskan, dari hasil penggeledahan di kantor PT QN Internasional Indonesia di Jakarta membuktikan bahwa perusahaan ini bukanlah perusahaan bonofid yang menjelankan perusahaan dengan baik.

Salah satu contoh di Website dipampangkan banyak produk yang mereka jual yang meliputi barang-barang lifestyle seperti jam tangan, perhiasan, alat-alat kesehatan dan kebugaran, alat-alat perawatan dan kecantikan serta peralatan rumah yang jumlahnya ratusan item.

"Tapi kenyataannya saat kami geledah, ternyata hanya ada 12 item produk di dalam gudang PT QN International Indonesia. Luas gudangnya pun hanya 4x6 meter persegi," beber Arsal.

Kalau di sambungkan dengan kode etik perusahaan PT QNII, perusahaan wajib mengirim barang yang dipesan customer hari itu juga atau paling lambat keesokan harinya sudah harus dikirim. Yang jadi pertanyaan kalau produk yang ditawarkan di website tidak ada di gudang, bagaimana mereka mengirimkan produk tersebut kepada customer dalam jangka waktu sesuai yang disebut kode etik.

"Bahkan rata-rata korban yang kami periksa mengatakan menerima barang setelah 5 bulan, bahkan ada yang tidak mendapatkan produknya sama sekali walau sudah bayar," ujar Arsal.

Kapolres Lumajang mengindikasi adanya tindakan pidana penipuan dalam praktik bisnis investasi skema piramida yang ditawarkan oleh para tersangka. Salah satunya, perusahaan tersebut tidak memiliki kontrak hak distribusi eksklusif dari pemilik merek.

"Selain itu ternyata PT QNII tidak memiliki kontrak hak distribusi eksklusif dari pemilik merek, di mana seharusnya sebuah perusahaan MLM tidak boleh mengedarkan produk yang tidak memiliki kontrak distribusi eksklusif dari pemilik merk," ucap Arsal.

Dia menyebutkan, bahwa PT. QNII menjalankan marketing plan yang tak terdaftar di Kementrian Perdagangan.

Marketing plan yang didaftarkan oleh PT QNII yaitu  sistem pendistribusian dengan model matahari yang maksudnya setiap member boleh memiliki ratusan bahkan ribuan downliner serta tidak ada pembatasan sama sekali sehingga membentuk seperti matahari. Tapi pada kenyataannya PT QN International Indonesia menjalankan sistem binary, di mana setiap member hanya boleh memiliki 2 downliner yaitu 1 di kaki kanan dan 1 di kaki kiri.

"Ini jelas-jelas ingin mengelabui hukum, karena mereka memiliki izin resmi dari Kemendag dan APLI, tapi mereka menjalankan sistem yang berbeda dengan yang dilaporkan ke Kemendag. Tapi izinnya itulah yang selalu ditampilkan ke publik kalau seakan-akan sistem mereka resmi dan terdaftar," Tuturnya.

Izin mereka selalu dijadikan tameng setiap adanya laporan dari masyarakat. PT QN International Indonesia atau Qnet selalu mengatakan bahwa perusahaannya legal dan tidak bisa disentuh oleh hukum, tapi akhirnya dari hasil penyidikan tim cobra bisa membongkar praktik tipu-tipu yang mereka lakukan.

"Kalau ini dibiarkan maka korban orang kecil akan terus berjatuhan, karena sasaran mereka adalah orang-orang kecil yang mudah diperdaya sedemikian rupa. Para korbannya sampai menjual sawah, menjual sapi bahkan sampai utang ke bank karena selalu ditanamkan doktrin UGD yakni Utang, Gadai dan Dol (jual). Para membernya diminta untuk mencari utang kepada siapapun dan menjual barang apapun dengan dalih uang tersebut akan kembali berlipat ganda," jelas Arsal.(Mam)

Posting Komentar

0 Komentar