Ini Sistem Kerja PT QNet. Kapolres: Perdagangan Model Piramida Adalah Kejahatan

tersangka ketika diintrogasi Kapolres
Lumajang,(DOC)-Pengungkapan kasus perdagangan model Piramida yang dijalankan oleh QNet, adanya Laporan anak hilang yang diterima oleh Tim Cobra pada 10 April 2019 lalu atas nama Putri (16) dimana pelapornya adalah  orang tua korban.

Korban sendiri adalah warga Dusun Karang Tengah Kec Sumbersuko Kab Lumajang. Korban sendiri mendapatkan penawaran pekerjaan di Madiun dengan gaji Rp 3 juta.

Namun ternyata setelah sampai di Madiun pekerjaan yang dijanjikan tidak ada. karena penawaran kerja hanya akal-akalan saja supaya para korban mau datang ke madiun. Tapi setelahnya mereka di cuci otak untuk bergabung dengan bisnis QNet dengan iming-iming kekayaan yang luar biasa, hanya dalam 1 tahun bisa mendapatkan Rp 11 Miliar bila bekerja dengan tekun. untuk awalnya Putri harus membayar sekitar Rp 10 juta supaya bisa bergabung ke bisnis QNet tersebut yaitu untuk membeli alat kesehatan yang bernama Cakra.

Dari pengakuan para korban diiming-iming keutungan besar yang dijalankan oleh PT Qnet.

Diawali dari para korban menyetor uang sejumlah 10 jua, dimana 8 juta untuk dikirim ke PT Qnet melalui upliner atau senior dan sisanya adalah biaya makan mereka sehari di penampungan.

Selanjutnya mereka diwajibkan mencari 2 orang anggota sebagai 1 kaki kanan dan 1 kaki kirinya. Dimana anggota yang berhasil direkrut juga ditugaskan mencari masing masing 2 anggota baru lagi.

Setiap kelipatan 3 kaki kanan kiri ( 3 kiri dan 3 kanan ) mereka akan mendapatkan komisi sebesar 250 dolar.

Member rekrutan baru diharuskan membayar 10jt ke upliner dimana 8jt diserahkan kepada PT Qnet sebagai kompensasi pembelian alat kesehatan yang bernama cakra.

Cakra adalah alat kesehatan yang berbentuk kaca yang sesuai presentasinya dapat menyembuhkan berbagai penyakit kronis.

Didalam buku panduan dijelaskan, pembagian alokasi dana dari uang yang mereka setorkan yaitu 13.1% untuk membeli barang berupa cakra (sejenis kaca yang diakui dapat menyembuhkan penyakit) dan sisanya sebesar 86.9 % yang digunakan untuk permainan uang/money Games.
Cara awal untuk merekrut anggota baru mereka diajarkan oleh seniornya untuk menawarkan ke teman-teman mereka pekerjaan mendata barang dengan gaji Rp 3 juta.

mereka menghubungi teman-teman mereka melalui whatsapp dan juga melalui facebook. Bila ada yang tertarik, mereka mengajak untuk bergabung ke Madiun. di gedung milik tersangka MK (inisial) mereka di brainwash (cuci otak) tentang bisnis QNet.

Kapolres Lumajang AKBP DR Muhammad Arsal Sahban SH SIK MM MH mengungkapkan dilihat dari alokasi dana yang mereka setorkan, harga barang (alat kesehatan) hanya 13.1% sedangkan 86.9%  dijadikan sebagai permainan uang yang dikenal sebagai money games. 
"Pembagiannya yakni: 53.7% sebagai komisi customer untuk dibagikan kepada para upliner, 16.5% sebagai keuntungan perusahaaan dan 16.7% sebagai biaya cadangan perusahaan," ungkap Arsal

Dalam bisnis model piramida orang yang paling bawah akan selalu dirugikan.  bisnis ini hanya menawarkan sebuah kesuksesan yang bersifat fatamorgana karena metode bisnis ini tidak akan pernah bisa langgeng.

"Menjalankan bisnis model piramida adalah kejahatan” tegas Kapolres, pria alumni Akademi Kepolisian tahun 1998.

Katim Cobra Polres Lumajang AKP Hasran Cobra menyatakan kasus ini menjadi prioritas untuk diselesaikan.

"akan kami buka semua tabir yang menyelimuti kasus ini. Untuk itu saya minta warga lumajang yang pernah dirugikan dalam bisnis Qnet agar melaporkan ke Polres” ujar Hasran yang juga selaku kasat Reskrim Polres Lumajang.(Mam)

Post a Comment

0 Comments