Konflik Tambang Pasir Berujung Penganiayaan, Kapolres Gelar Rekontruksi

Rekontruksi ulang
Lumajang,(DOC)-Kasus penganiayaan terhadap mantan Kepala Desa Pasrujambe, akibat adanya konflik soal tambang pasir, Polres Lumajang gelar rekontruksi.

Rekontruksi ulang berlangsung dihalaman rumah korban di Desa Pasrujambe, Kecamatan Pasrujambe, Kabupaten Lumajang, Senin (25/3/2019) siang, dipimpin Kapolres Lumajang AKBP Muhammad Arsal Sahban.

Reka ulang adegan itu dilakukan sekira pukul 10.00 WIB dihadiri tersangka  Nanok Priwandono (42) warga Desa Klakah, Kecamatan Klakah, Lumajang dan korban mantan kades Junaedi.

Dalam adegan berlangsung tersangka mendatangi rumah korban dengan menggunakan sepeda motor sambil membawa pisau, tiba dihalaman rumah korban sambil berteriak agar korban keluar.

Tidak lama kemudian korban bersama istrinya keluar menemui pelaku. Pelaku dan korban terlibat cekcok mulut, akhirnya keduanya saling dorong mendorong hingga masuk ke teras rumah korban.

Pelaku memukul korban dengan tangan kosong hingga menyebabkan luka memar dibagian telinga, pangkal hidung, bibir dan perut serta kaki dari korban.

Selanjutnya pelaku mengeluarkan pisau, korbanpu melawan dengan merebut pisau yang pegang oleh pelaku, sehingga diamankan oleh istri korban.

Mendengar kegaduhan, warga pun berdatangan pada saat kejadian. Akhirnya pelaku berhasil melarikan diri serta merampas kembali pisau yang sempat diamankan oleh istri korban.

Kapolres Lumajang AKBP Muhammad Arsal sahban ahwa berdasarkan investigasi memang benar motif dibalik penganiayaan tersebut akar masalahnya dari pengelolaan tambang pasir

"Dari hasil investigasi pihak kami, serta hasil rekonstruksi tadi, memang dapat disimpulkan bahwa kejadian penganiayaan ini akar masalahnya dari pengelolaan tambang pasir," terangnya.

Ada 4 pihak yang mengelola didalam lahan tambang pasir tersebut. Dimana ada sejarah panjang dalam proses pengelolaannya diantara mereka, yang kemudian ada pihak yang merasa tidak ditepati kesepakatan-kesepakatan dulu. hal ini yang menyebabkan terjadinya konflik sampai berujung kepada penganiayaan ini.

Tersangka Nanok dijerat melakukan penganiayaan dalam pasal 351 ayat 1 dengan ancaman kurungan penjara selama 2 tahun 8 bulan,

"juga membawa senjata tajam yang mana tercantum dalam Pasal 2 ayat 1 UU RI NO.12/DRT/1951 dengan ancaman kurungan penjara maksimal 10 tahun," Kasat Reskrim Polres Lumajang AKP Hasran.(mam)



Posting Komentar

0 Komentar