Wanua Nusantara: Praktik Pembumian Nilai-Nilai Pancasila Kepada Generasi Muda

Malang (DOC) - Kamis Malam, 27 September 2018, telah dilaksanakan kegiatan pelatihan kader Pancasila, yang bertajuk “Wanua Nusantara: Praktik Pembumian Nilai-Nilai Pancasila kepada Generasi Muda”. Tujuan dari kegiatan ini adalah pemberian pemahaman nilai-nilai Pancasila kepada generasi muda dan diharapkan hasil dari kegiatan tersebut adalah terbentuknya kader-kader Pancasila yang ada di kalangan generasi muda.

Pembumian ideologi Pancasila sudah saatnya tidak sekadar dilaksanakan di bangku kuliah dan dalam model klasikal, melainkan didiseminasikan di ruang-ruang publik tanpa sekat-sekat seremonial.

Demikian halnya, indoktrinasi selaiknya tidak lagi dipahami sebagai monolog searah yang ditujukan kepada audiens pasif dan musti sepakat. Ia adalah dialog setara dan sama aktif terhadap satu diskursus tertentu, yang dalam hal ini adalah ideologi Pancasila. Pancasila dengan demikian, tidak sekadar ideologi atau jalan hidup bagi para akademisi belaka. Harus diinsyafi bahwa Pancasila adalah way of life segenap insan Indonesia, tanpa memperbedakan akademisi-praktisi, elit-awam, pun paduka dan jelata.

Setiap ideologi, menurut Latif (2014), idealnya harus mampu memadukan tiga unsur: 1) keyakinan, 2) pengetahuan, dan 3) tindakan. Pertama, ideologi seharusnya mengandung seperangkat keyakinan yang berisi tuntutan-tuntutan normatif-preskriptif yang menjadi pedoman hidup. Batasan dan keleluasaan yang sifatnya terberi serta nyaris tidak perlu dibuktikan lagi kebenarannya (quot erat demonstrandum) ini meniscayakan perenungan dan pencerapan filosofis yang mendalam. Tentang ini, telah banyak karya akademis maupun populer yang telah ditulis.

Kedua, ideologi mengandung semacam paradigma pengetahuan berisi seperangkat prinsip, doktrin, dan teori, yang menyediakan kerangka interpretasi dalam memahami realitas. Kecenderungan-kecenderungan umum dan pengecualian-pengecualian partikelir yang dikonstruksi makna serta generalisasinya membangun kebenaran ilmiah, teoritik, dan doktrinal. Titik berangkat ini merupakan pijakan memaknai realitas dan memosisikannya secara bijak. Pada matra ini, Pancasila sebagai sistem pengetahuan, masih belum tuntas dikupas dalam karya akademik maupun non-akademik.

Ketiga, ideologi mengandung dimensi tindakan yang merupakan level operasional dari keyakinan dan pengetahuan dalam realitas konkret. Pada areal ini, Pancasila dinilai terlalu surplus ucapan dan sebaliknya minus tindakan, dan inilah yang menimbulkan kesangsian jamak orang akan “kesaktian”, keberlakuan, dan kedalaman nilai-nilai Pancasila. Pengabdian yang dilaksanakan tersebut adalah langkah kecil dalam upaya pengabaran dan pengarusutamaan pengamalan nilai-nilai Pancasila.

Posting Komentar

0 Komentar