Tantangan Pemuda Indonesia Menghadapi Proxy War dan Upaya Mensuriahkan Indonesia

Sejarah  mencatat pemuda merupakan bagian terpenting dari sebuah perubahan. Kebangkitan nasional di Indonesia pada awal abad ke-20 dimotori oleh mereka, pemuda. Budi Utomo, berisikan pemuda, intelektual yang memantik kesadaran kolektif segenap anak bangsa untuk bangkit dan merdeka. Kongres Pemoeda 27-28 Oktober 2018, menghasilkan sumpah Pemoeda yang menegaskan cita-cita akan tanah air Indonesia bangsa indonesia, dan bahasa Indonesia.

Proklamasi Kemerdekaan 1945 tak luput didominasi oleh sebagian besar oleh pemuda, begitu pun reformasi 1988, mereka pemoeda tampil kembali dalam kancah perpolitikan nasional, membawa perubahan signifikan yang bisa dirasakan sampai saat ini.

Pasca 20 tahun reformasi, kiprah pemuda belum terlalu menujukkan tajih. Hanya sebatas gerakan reaksioner kecil-kecil. Atau hanya sebatas gerakan menarik simpati, misalnya aksi salah seorang mahasisa memberi kartu kuning kepada presiden. Di partai politik, pemuda tidak mendapat tempat, karena biaya politik mahal sehingga yang tampil mereka yang berduit. Pemuda jaman now hanya sebatas lumbung-lumbung suara dalam kontestasi, swing voters yang dipermainkan perasaanya oleh mereka yang berkuasa. Pemuda jadi korban propaganda politik di media sosia media, rela memutuskan hubungan pertemanan hanya lantaran mendukung capres-cawapres tertentu.

Panggung nasional dikuasai oleh para penyebar hoax. Pemuda bukan malah kritis, tapi ikut menduplikasi informasi hoax. Karakter pemuda yang melek sejarah, kritis dan memiliki analisa tajam sebagaimana karakter pemuda jaman pergerakan langka untuk ditemukan.

Hutang sejarah yang diberikan para pahlawan di pundak pemuda sangatlah berat. Harapan besar akan kemajuan bangsa dan negara di jaman next ada di tangan pemuda di jaman now. Pemuda harus mampu memperjuangkan dan melindungi keutuhan NKRI, terutama di era sekarang dimana arus percepatan informasi yang begitu cepat, membunuh sebagian pemuda Indonesia. Tidak sedikit pemuda Indonesia terjerembab dalam aliran sesat, ideologi import dari luar negeri. Paham transnasional yang meniadakan rasa cinta tanah air, nasionalime, yang menentang Pancasila.

Mereka inilah pemuda yang tidak melek sejarah, mudah terpengaruh, potensial ke depannya membahayakan dan merusak tatanan kehidupan bangsa. Menjadi sampah masyarakat.

Pemuda Indonesia harus mampu menempatkan diri, bila memang belum memberikan kontribusi besar untuk negara, setidaknya tidak menambah jumlah pemuda mudah terprovokasi, mudah mengkafirkan sesama anak bangsa. Pemuda harus belajar dari apa yang terjadi di timur tengah, dimana konflik demi konflik terus terjadi seperti sinetron tiada akhir. Pemuda Indonesia harus mampu melindungi bangsa dan negaranya agar tanah Indonesia tidak menjadi lahan chaos, dimana adanya lahan chaos di sebuah wilayah sangat dibutuhkan oleh kaum pengeruk keuntungan dunia. muncul sebagai pahlawan pemberi paket bantuan, menawarkan pangan, senjata dan sebagainya.

Pemuda harus memahami bahwa perang di jaman now tidaklah sama sebagaimana perang dunia ke-1 atau ke-2. Pemuda Indonesia harus melek, Indonesia yang gemah ripah loh jinawi ini tidak akan lepas dari target perang ekonomi negara maju dengan cara apapun, termasuk penciptaan konflik atau chaos.

Akar dari Chaos Theory adalah hipotesis yang pernah disampaikan oleh Edward Lorenz tahun 1972, yakni butterfly effect. Dimana satu kepakan sayap kupu-kupu dapat menggerakkan molekul kecil di udara, yang kemudian juga menggerakkan molekul lain, semakin membesar dan mampu menciptakan badai di sisi lain dari planet ini". Chaos ini sebenarnya bukan barang baru dalam sejarah dunia, menjadi kebutuhan yang sengaja diciptakan oleh negara-negara maju untuk menguasai negara yang lebih inferior, sehingga bisa dengan mudah mendapat manfaat ekonomi atas sebuah musibah.

Proxy war merupakan istilah yang menggambarkan praktek meminjam “Tangan pihak lain” baik berupa meminjam sebuah negara, organisasi politik, ataupun kelompok bersenjata untuk menguasai target sasaran dan biasanya adalah negara yang memiliki sumber daya alam yang potensial.

Arab spring merupakan manifestasi dari proxy war yang sanggup menciptakan adanya butterfly effect, chaos yang dengan sangat cepat sambung-menyambung di Timur Tengah, efekif menumbangkan pemimpin yan dianggap diktator atau menciptakan kevakuman pemerintahan.

Dimulai dari Tunisia berturut efek molekul dari konflik menggelinding ke Yaman, Bahrain, Suria, Algeria, Jordania dan sebagainya. Sebuah pertanyaan, siapa dibalik dari arab spring dan siapa yang mengambil keuntungan?. Siapapun negara maju beserta sekutu dekat dan jauhnya akan diuntungkan. Konflik yang makin besar dibutuhkan untuk membuat sebuah negara collapse, pertanian hancur, kegiatan produksi berhenti, proses pendidikan berhenti dan rakyat mati kelaparan.

Kemudian negara maju hadir dengan paket bantuan, menawarkan senjata, menawarkan gandum, dan sebagainya.

Penggulingan penguasa di negara di timur tengah sering dikaitkan dengan Amerika Serikat untuk penciptaan kondisi yang menguntungkan secara ekonomi baik untuk Amerika Serikat dan sekutu.

Isu ekonomi, pemimpin otoriter, demokrasi, kebebasan berpendapat, isu HAM, isu sektarian dan sebagainya dihembuskan lewat tools media sosial terbukti efektif menumbangkan rezim di beberapa negara, kecuali suriah. Ternyata konflik di negara para Anbiyah berdakwah menyebarkan ajaran agama Tuhan terus berlanjut pasca arab spring.

Gerakan ini lebih besar dan membahayakan dibandingkan konflik akibat dari arab spring sendiri. Muncul gerakan terorisme terstruktur yan disebut ISIS, Islamic state in Iraq and Syria yang dikomandoi Abu Bakr al-Baghdadi.

Awal kemunculan ISIS ini sangat kontroversial ada yang mengecam ada pula yang memuja, siap menghamba. Propaganda mereka sangat membius, dimana banyak pemuda dari berbagai belahan dunia meninggalkan tanah air  mereka, bergabung bersama ISI, memperjuangkan pendirian Khilafah Islamiyah. Di Indonesia, ada ormas yang secara terang-terangan mendeklarasikan dukungan terhadap ISIS karena mereka memiliki irisan Ideologi irisan ideologi yang sama yakni mendirikan Khilafah Islamiyah. Kebrutalan ISIS tidak hanya menumbangkan banyak korban jiwa, situs-situs bersejarah, masjid, tempat ibadah lain dihancurkan.

Belakangan disebut ISIS hanyalah kepanjangan tangan  Amerika Serikat. Sementara itu, Mantan pekerja US National Security Agency (NSA), Edward Snowden menyebut bahwa pemimpin ISIS itu ternyata agen Mossad yang berdarah Yahudi.

Pemuda dunia yang menghamba pada ISIS mengira akan mendapat bidadari surga, tapi sayangnya hanya menjadi korban politik tingkat global.

Selanjutnya ISIS menebarkan teror ke berbagai belahan dunia. Tahun 2017 ISIS melancarkan aksi di Filipina yang mencekam penduduk setempat, memakan korban yang tidak sedikit. ISIS beberapa kali memberika ancaman ke Indonesia. Baiknya adalah gerakan ISIS di Indonesia lebih bisa diminimalisasi. Sel-sel ISIS akan terus hidup, mempengaruhi masyarakat Indonesia, terutama pemuda. Mereka akan terus menerus melakukan uji coba serangan kecil-kecilan hingga menemukan momentum yang tepat melancarkan serangan lebih besar. Terakhir tahun 2018, ISIS mengaku  bertanggung jawab atas bom bunuh diri yang terjadi di beberapa gereja di Surabaya. Mereka dengan beraninya membangunkan tidur arek-arek Suroboyo.

Indonesia pada saat ini berada dalam ancaman besar dari upaya gerakan menggulingkan ideologi negara pancasila dengan khilafah islamiyah. Paham makar yang dulunya terselubung tersebut tumbuh subur terutama pasca reformasi, dan kini ketika mereka merasa sudah memiliki massa dan pengaruh cukup, tindakan makar menjadi hal yang terang benderang. Mereka tumbuh dengan sangat militan terutama di kampus-kampus besar. Mereka memiliki kemampuan handal mampu dengan cepat mencuci otak mahasiswa yang sangat pandai sekalipun untuk yakin dan percaya bahwa Pancasila itu thogut, demokrasi itu haram, nasionalisme adalah barang usang. Siapapun mereka saya sebut sebagai penghianat sumpah pemuda dan penghianat prokalamasi kemerdekaan Indonesia 1945.

Hizbut Tahrir merupakan salah satu kelompok yang menyebarkan ide Khilafah di Indonesia. Mereka hidup seperti sel kanker di berbagai negara lain tidak hanya di Indonesia. Pada tahun 1953, Pemerintah Yordania membubarkan Hizbut Tahrir karena dianggap mengancam kedaulatan negara.

Pada 1974, Pemerintahan Mesir membubarkan Hizbut Tahrir karena diduga terlibat upaya kudeta. Pada tahun 1999, Pemerintahan Uzbekistan membubarkan Hizbut Tahrir karena diduga menjadi dalang pengeboman di Tashkent,ibu kota Uzbekiztan. Pemerintah Indonesia merupakan negara ke-17 yang melarang aktivitas Hizbut Tahrir karena dianggap bertentangan dengan Pancasila dan konstitusi, mengancam ketertiban masyarakat, dan membahayakan keutuhan negara. Pemerintah sudah sangat tepat memadamkan api yang masih keci sebelum api membesar membakar semuanya.

Meskipun sudah dibubarkan, eksistensi gerakan HTI seperti tak pernah mati. Karena mereka menjalin ikatan, ‘berkoalisi’ dengan partai politik tertentu meskipun partai tersebut berlabel paham kebangsaan. Di Pilkada DKI Jakarta, mereka meleburkan diri bersama FPI dan sebagainya mendukung salah satu calon gubernur. Mereka menunggangi aksi bela 212, seakan membela kepentingan umat islam, mengutuk ahok yang dicap sebagai penista agama, mendukung cagub tertentu. Aksi mereka tidak berhenti disitu, mereka menuntut ganti presiden, dan tidak lupa sambal menyelam minum air mereka menuntut ganti sistem. Sistem Khilafah maksudnya?

Yang perlu diwaspadai adalah ketika romantisme aksi bela 212 terulang di pilpres 2019. Pemakaian Isu-isu agama, asal tunjuk kafir, isu komunisme, isu rezim otoriter, isu HAM, dan sebagainya akan mewarnai pilpres 2019. Mereka menunggu momentum yang tepat untuk melancarkan aski yang sama seperti saat Pilkada DKI Jakarta. Pada akhirnya mereka menemukan momentum, pembakaran bendera HTI oleh anggota banser, dipolitisasi sedemikian rupa bahwa itu bukan bendera HTI, bendera yang dibakar merupakan bendera tauhid. Informasi bahwa bendera yang dibakar itu bendera tauhid dihembuskan secara masif untuk memantik emosi dan mendapatkan simpati rakyat atas gerakan mereka.

Sejenak mari kita meresapi apa yang pernah disampaikan oleh Menteri Propaganda NAZI, Joseph Goebbels pernah mengatakan. “Sebarkan kebohongan berulang-ulang kepada Rakyat.

Kebohongan yang diulang-ulang, akan membuat rakyat menjadi percaya.” Ex Jubir HTI melakukan jumpa pers bahwa selama ini HTI tidak memiliki bendera, sebuah kebohongan besar telah diucapkan untuk menciptakan kegaduhan untuk membelah opini publik. Ini tidak jauh beda dengan kebohongan yang diciptakan Ratna Sarumpaet yang disamput oleh salah satu capres untuk menyerang pemerintah. Meskipun pembakar bendera sudah meminta maaf, ditangkap dan diproses oleh kepolisian, mereka terus memanfaatkan kasus ini sebagai momentum, berencana menggelar aksi bela tauhid 211. Mereka mengira aksi ini akan mengulangi kesuksesan aksi 212. Perlahan masyarakat akan mengerti siapa yang memanfaatkan kebohongan untuk meraih kekuasaan.

Pilpres 2019 harus berhati-hati, pemuda harus tampil di depan agar bangsa dan negara ini tidak terjebak dalam usaha penciptaan konisi gaduh nasional yang sangat diharapkan oleh para ‘pelaku’ internasional. Pemuda harus tampil terdepan melawan hoax, apalagi hoax yang sistematis yang ingin menciderai keutuhan NKRI. oleh kelompok tertentu yang ingin merubah wajah Indonesia menjadi Khilafah.

Pemuda harus tampil di depan memerangi radikalisme, terorisme dengan memberikan perlawanan, gerakan dilawan dengan gerakan, gagasan dilawan dengan gagasan. Pemuda harus menjaga Indonesia agar tetap damai, gagal untuk disuriahkan. Pemuda harus tampil menjadi kaum intelektual yang berkarakter kuat, meneguhkan Pancasila sebagai dasar negara, Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai bentuk negara, Bineka Tunggal Ika sebagai sistem sosial kemasyarakatan, UUD 1945 sebagai konstitusi negara, dan sang saka merah putih sebagai bendera nasional Indonesia.

Selamat hari Sumpah Pemoeda.

Penulis: Sony (Pemuda Asal Sidoarjo).

Share on Google Plus

About D onenews Lumajang

Berita www.d-onenewslumajang menampilkan berita terkini dan terbaru. Kami, anda dan Kabar Berita

0 Comments:

Posting Komentar