Prihatin Akan Budaya Suku Sasak, 2 Anak Muda Alumni PMII dan GMNI Dirikan Sekolah Adat Rengganis

Lombok Tengah (DOC) - Jangan tanya apa yang telah diberikan negara kepadamu, tapi apa yang telah kamu berikan pada negaramu. Kata bijak tersebut mungkin tepat untuk  mengambarkan sosok 2 pemuda dan pemudi  Suku Sasak sekaligus mantan aktifis kampus yaitu Juanda Pramadani S.Pd alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan Lalu Muhammad Anshori, S.Pd alumni
Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kota Mataram yang berjuang untuk mengenalkan kembali budaya leluhurnya kepada 32 anak Dusun Mongge 2, Desa Sukadana, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, NTB dengan mendirikan Sekolah Adat Rengganis.

"Sekolah adat ini berdiri sebagai bentuk solusi terhadap pendidikan formal yang dirasa kurang begitu memperhatikan nilai-nilai dan kearifan lokal,” ujar Anshori yang juga merupakan pendiri sekaligus pengajar di sekolah tersebut.

Lebih lanjut ia menjelaskan tujuan didirikan Sekolah Adat Rengganis adalah untuk melestarikan budaya dan tradisi yang mulai dilupakan dikarenakan digerus oleh kebudayaan barat serta membentuk sebuah pola baru sistem pendidikan yang berbasis adat, budaya untuk membangun karakter dan moralitas generasi bangsa.

"Di sekolah Adat Rengganis ini kami hanya memiliki 2 guru, dalam keterbatasan pengajar ini tidak menyurutkan kami untuk mendidik anak-anak generasi penerus Suku Sasak sehingga setiap minggunya kami mendatangkan guru tamu. Materi yang kami ajarpun sangat bervariasi antara lain materi basic englis class, bahasa Sasak halus, pengenalan budaya Sasak, permainan tradisional, mengaji, seni lukis, tarian dan kesenian tradisional. Untuk kegiatan belajar mengajarnya sendiri dilaksanakan setiap hari mulai pukul 15.00 s/d 16.30 WITA. Sedangkan kurikulumnya kami menyesuaikan dengan kebutuhan di lingkungan masyarakat setempat dengan memadukan nilai-nilai kearifan lokal" ujar mantan Ketua DPC GMNI Mataram tersebut.

Dukungan pemerintah Desa Sukadana dan pemerintah Kecamatan Pujut terhadap keberadaan Sekolah Adat Rengganis sangat luar biasa terbukti dengan keseriusan Pemerintah Desa akan mengupayakan pengalokasikan dana untuk menunjang kegiatan sekolah tersebut. Bahkan saat ini pemerintah desa bersama pemerintah kecamatan dan warga saling bahu-membahu untuk memunculkan sekolah ini menjadi ikon Desa Sukadana ke depannya.

Tampilnya 2 tokoh pendiri Sekolah Adat Rengganis menunjukkan bentuk sinergi antara 2 organisasi ekstra kampus PMII dan GMNI yang mencoba memberikan alternatif solusi terhadap adanya krisis moral dan kebudayaan sehingga mereka berupaya untuk menyelamatkan generasi Suku Sasak dari gempuran arus globalisasi.

Jurnalis Warga: Yopi Aris Widiyanto (Pengajar Antropologi dan Sejarah)
Share on Google Plus

About D onenews Lumajang

Berita www.d-onenewslumajang menampilkan berita terkini dan terbaru. Kami, anda dan Kabar Berita

0 Comments:

Posting Komentar