Remaja Harus Paham Tentang Keselamatan Berkendara

Kecelakaan lalu lintas merupakan fenomena yang sudah sering terjadi di Indonesia. Bahkan, tiap daerah sepertinya “tidak sungkan-sungkan” untuk menjadi penyumbang data mengenai tingginya angka kecelakaan lalu lintas. Momok yang menghantui para pengendara ini merupakan pembunuh yang tidak disadari sebenarnya datang dari diri pengendara itu sendiri.

Kecelakaan lalu lintas lebih sering terjadi karena para pengendara kurang paham akan pentingnya menjaga keselamatan nyawanya ketika berkendara. Ketidakpatuhan terhadap rambu-rambu lalu lintas, tidak memenuhi persyaratan akan kendaraan yang layak untuk dikendarai, hingga tidak mengindahkan aturan untuk memakai perlengkapan berkendara yang aman lebih sering terjadi. Hal-hal seperti itu tentu saja merupakan keadaan yang seharusnya bisa dicegah sejak dini. Memperhatikan tata karma berlalu lintas merupakan hal wajib bagi setiap pengendara. Lebih lanjut, para pengendara sudah seharusnya memperhatikan dan mengindahkan aturan-aturan dan syarat-syarat wajib dalam berkendara.

Dewasa ini, kecelakaan lalu lintas intens terjadi pada usia remaja. Para remaja yang tidak paham akan aturan dalam berkendara demi menjaga keselamatan nyawanya menjadi problematika pelik yang harus ditanggulangi. Data dari Korlantas Polri pada tahun 2016 (dalam Kompas, 2016) mencatat bahwa angka kecelakaan lalu lintas berada pada angka 80.157 kejadian. Dari angka tersebut, kecelakaan lalu lintas yang melibatkan kendaraan roda dua mencapai angka 71.616 kejadian.

Parahnya, dari angka tersebut, bila diklasifikasikan berdasarkan rentang usia, rata-rata adalah pengendara dengan rentang usia mulai dari 15-19 tahun. Hal tersebut dibenarkan oleh Kombes Pol Korlantas Polri, Unggul Sedyantoro yang mengatakan bahwa korban kecelakaan lalu lintas didominasi oleh remaja yang masih duduk di bangku SD hingga SMP. Mayoritas dari mereka belum memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM) dan seringkali kendaraan yang dikendarai tidak memenuhi syarat karena fitur-fitur kendaraan yang kurang lengkap.

Kita sering menjumpai para remaja yang mengendarai motor “pretelan” yaitu motor yang mereka modifikasi sesuai keinginan, namun tidak sesuai dengan aturan yang mengharuskan kendaraan untuk memiliki fitur lengkap guna mengurangi risiko kecelakaan. Hal tersebut ditambah dengan fakta bahwa para remaja tersebut sebenarnya belum memiliki SIM dan belum paham benar akan tata karma dalam berkendara.

Seringkali mereka mengendarai motor dengan ugal-ugalan, berbalas pesan melalui gadget¸ tidak memakai helm, hingga boncengan yang melebihi kapasitas. Perilaku seperti ini dalam sudut pandang psikologi terjadi karena dalam usia-usia tersebut para remaja masih belum matang dari segi pemikiran untuk mengukur risiko dalam berkendara. Dari riset yang dilakukan Carmudi melalui “National Institute of Health” di Amerika Serikat (dalam Antara News, 2017) menyebutkan bahwa kecenderungan remaja dalam mengemudi secara sembrono dipengaruhi oleh ketidakmampuan untuk mengukur risiko dan mengendalikan perilaku impulsif mereka. Bagian otak yang belum matang tersebut bernama “nuccleus accumbens” yang terkait dengan kesenangan. Pada bagian otak tersebut pada remaja, mereka merasakan kesenangan yang kurang terkontrol dan bahkan seringkali membuat mereka melupakan risiko atas perilaku sembrono dalam berkendara.

Hal-hal seperti itu seharusnya dapat dicegah. Remaja harus sudah paham tentang keselamatan berkendara. Oleh sebab itu, untuk mengedukasi para remaja menuju proses pematangan kemampuan berpikirnya dalam kaitannya dengan berkendara, kami tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari Universitas Negeri Malang yang mengabdi di Desa Senggreng, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang pada tanggal 2 Juni 2018 silam mengadakan sosialisasi mengenai safety riding. Saya, Nico Maulana Piliang, berkeinginan untuk membagikan pentingnya literasi dan tata krama dalam berkendara kepada para remaja.

Sosialisasi ini dihadiri oleh siswa-siswi SMP Dharma Wanita Senggreng yang masih cenderung belum paham akan pentingnya keselamatan dalam berkendara. Pembahasan dalam sosialisasi mencakup tentang syarat-syarat wajib sebelum berkendara, tata krama berkendara, hingga pentingnya fitur-fitur utama pada motor.

Mengenai syarat-syarat wajib sebelum berkendara yang termaktub dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan mensyaratkan bahwa setiap pengendara wajib memiliki SIM terlebih dahulu. Pada pasal 81 ayat 5 disebutkan bahwa seseorang mendapatkan SIM apabila telah memenuhi syarat lulus ujian teori, praktik, dan keterampilan melalui simulator (Anisa dan Lucia, 2016). Ujian teori merupakan ujian terkait segala tata cara dan aturan berkendara yang harus dilalui oleh seseorang dalam tes untuk mendapatkan SIM.

Pengetahuan ini tentu saja sangat penting untuk menunjang pemahaman terhadap tata krama berlalu lintas dan paham benar akan rambu-rambu lalu lintas. Kemudian, praktik merupakan penerapan dari ujian teori dalam sebuah simulasi untuk menunjang keterampilan berkendara dan keterampilan dalam mengukur risiko berkendara. Kemudian, meningkatkan pemahaman kepada para remaja tentang tata krama berkendara untuk tidak berboncengan melebihi kapasitas dan wajib memakai helm juga menjadi bagian dalam pembahasan yang sangat penting. Lebih lanjut, memperhatikan fitur-fitur motor seperti tidak mencopot kaca spion, menyalakan lampu motor sesuai aturan, dan tidak mem-preteli motor juga disosialisasikan agar para remaja ini paham tentang keselamatan berkendara dan bisa mengukur risiko dalam berkendara. Besar harapan kami pada generasi muda ini agar mampu untuk mengurangi risiko kecelakaan berkendara. Tentu saja karena generasi-generasi ini nantinya menjadi tumpuan bangsa di masa depan untuk membawa kemajuan, terlebih jika mereka bisa memulainya di desa mereka tinggal.

Menjaga keselamatan nyawa dan masa depan merupakan hal wajib bagi tiap kita. Kami selalu percaya bahwa remaja-remaja ini nanti akan menjadi pemimpin-pemimpin dan  pembawa perubahan bagi lingkungannya. Dengan program ini kami berharap bahwa mereka bisa benar-benar paham dan bisa mengaplikasikannya dalam kehidupan. Semoga saja mereka tetap bersikukuh untuk merengkuh masa depan dengan gilang-gemilang melalui salah satu cara yaitu memperhatikan keselamatan dalam berkendara demi menjaga keselamatan nyawanya.

Penulis: Nico Maulana Piliang (Pendidikan Luar Sekolah UM)

Posting Komentar

0 Komentar